Sekolah Kehidupan
Cerita 03

Dia Temen Gue, Bukan Nasib Gue

Perbandingan hanya mencuri kebahagiaan yang belum sempat kamu rasakan.

Garis Start yang Sama

Juki sama Sabeni mulai dari titik yang persis sama.

Gang sempit di Tanah Abang,

kontrakan sembilan ratus ribu sebulan yang kamarnya pas buat satu orang

tapi diisi berdua karena lebih irit, dan mimpi yang waktu itu masih sama-sama belum berbentuk jelas.

Mereka kenal dari SD — waktu itu Sabeni paling sering jajan duluan di kantin,

Juki paling sering nulis PR-nya di meja taman karena di rumah berisik.

Sudah tiga puluh tahun lebih mereka kenal.

Sudah tiga puluh tahun lebih mereka tahu cara berpikir satu sama lain,

cara ngambek satu sama lain,

dan cara bohong satu sama lain meski nggak pernah ngaku.

Pagi itu,

Juki lagi benerin tali sandal di teras waktu Bapaknya keluar sambil batuk-batuk pelan — batuk yang sudah jadi musik latar pagi hari sejak dulu.

"Denger Bapak dulu, Ki."

Juki nurut. Duduk di undak-undakan.

"Hidup itu bukan perlombaan, Nak.

Tapi juga bukan taman bermain yang bisa seenaknya.

Kerja apa aje boleh, asal jangan minterin orang.

Jangan nipu, jangan ngibulin. Jalanin yang lurus. Ngerti?"

"Ngerti, Pak."

"Satu lagi." Bapak hisap rokoknya, hembus pelan.

"Jangan mau hidup buat keliatan. Hidup buat ngerasain."

Juki manggut.

Waktu itu dia belum betul-betul ngerti kalimat terakhir itu.

Tapi dia simpan.

Sabeni muncul dari ujung gang,

jalannya cepat kayak orang yang selalu ada agenda.

"Lama amat, Bro. Kayak mau kondangan aje."

"Biasa, dikasih wejangan Bapak."

"Wejangan apa?"

"Jangan hidup buat keliatan."

Sabeni ketawa.

"Ah, Bapak lu mah. Zaman sekarang kalo kagak keliatan, kagak ada yang percaya, Bro."

Juki ikut ketawa.

Waktu itu dia pikir Sabeni bercanda.

------------------------------------------------------------------------

Yeyen dan Dua Cara Mendekati

Barista baru di warung kopi langganan itu namanya Yeyen.

Senyumnya renyah,

bicaranya ceplas-ceplos, dan cara dia nuang kopi kayak udah hafal selera tiap pelanggan padahal baru seminggu kerja di sana.

Juki jatuh hati dengan cara yang pelan — nggak sadar sampai tiba-tiba dia nongkrong di sana tiap pagi bukan karena kopinya.

Sabeni jatuh hati dengan cara yang lebih cepat dan lebih berisik.

"Lo suka dia kan, Juk? Keliatan banget."

"Kagak."

"Bohong."

"Yaudah iya. Terus kenapa?"

"Gue bantu, dong. Gue ada cara."

Cara Sabeni: beliin Yeyen mesin kopi portable mahal,

makan siang di tempat yang harganya nggak ada di papan karena memang nggak perlu dipajang,

dan cerita soal proyeknya yang lagi jalan sambil nggak lupa sebut angkanya.

Cara Juki: bikin karikatur Yeyen di tisu bekas.

Buatin playlist lagu-lagu yang biasa dia dengerin waktu jalan kaki pagi.

Nyamperin pas lagi sepi dan tanya,

"Yen, enaknya kopi dicampur apa biar beda?" — lalu dengerin jawabannya sampai habis.

Suatu sore,

waktu Sabeni lagi ke toilet,

Yeyen naruh siku di meja dan noleh ke Juki.

"Juk, gue mau tanya sesuatu. Jujur ya."

"Jujur aje, Yen."

"Playlist yang lo kirim itu... lo bikin sendiri apa nyontek dari mana?"

"Bikin sendiri.

Dari lagu-lagu yang gue suka."

Yeyen diam sebentar.

"Itu yang paling jujur yang pernah ada orang kasih ke gue. Makasih, ya."

Juki nggak sempat jawab karena Sabeni sudah balik dari toilet.

Tapi kalimat itu nyangkut lama di kepalanya.

------------------------------------------------------------------------

Ketika Teman Melaju Duluan

Dua bulan kemudian,

Sabeni dapat proyek besar.

Juki tahu dari cerita Sabeni sendiri — panjang, detail, dan penuh angka yang disebutnya dengan cara yang terdengar santai tapi sebetulnya ingin terdengar besar.

Proyek itu cair, dan Sabeni langsung gerak cepat.

Sewa ruko di pinggir jalan ramai.

Buka kedai kopi kekinian — dengan nama yang pakai bahasa Inggris, papan neonnya bagus, dan kursinya model yang sering difoto orang.

Juki diundang ke pembukaannya.

Dia datang.

Senyum. Tepuk tangan.

Pesan kopi yang harganya tiga kali lipat dari warung biasa.

Tapi perjalanan pulangnya pelan banget karena kakinya berat.

Mereka pernah ngomongin soal buka usaha bareng — dulu,

waktu masih nongkrong di trotoar sambil minum kopi saset.

"Nanti kita buka warung kopi sendiri, Bro. Yang sederhana tapi berasa."

Itu kata-kata Juki.

Sabeni yang bilang

"Sip, gue urus modalnya, lo urus konsepnya."

Ternyata Sabeni buka sendiri.

Tanpa Juki. Tanpa kata-kata itu.

Malam itu, kamar Juki sunyi.

Laptop mati. Kopi di gelas sudah lupa kapan dibikinnya.

Dan di dalam kepalanya ada suara yang dia nggak mau dengerin tapi terus muncul:

Kenapa dia bisa, gue kagak?

Apa yang kurang dari gue?

Bapak minta gue jadi orang bener — tapi orang bener itu nasibnya kayak gini?

Perang di Dalam Kepala

Juki nggak tidur sampai subuh.

Bukan karena insomnia — tapi karena pikirannya terlalu berisik.

Dia scroll Instagram Sabeni. Foto-foto kedai kopinya.

Pelanggan yang antre.

Sabeni berdiri di depan kasir pakai celemek kain dengan senyum yang fotogenik.

Lalu dia scroll ke bawah lagi.

Foto motor baru. Foto makan malam di tempat yang platnya pakai bahasa asing.

Foto Sabeni di bandara — mau ke mana,

captionnya nulis "quick escape" yang artinya Juki tahu tapi pura-pura nggak tahu.

Dia kunci HP-nya.

Rebahan menatap langit-langit yang catnya sudah mengelupas di pojok.

Sudah lama mau diperbaiki tapi selalu kalah sama keperluan lain.

Yang paling menyiksa bukan irinya.

Yang paling menyiksa adalah:

dia sadar dia iri, dan dia nggak mau iri, tapi irinya nggak bisa pergi.

Sabeni itu temannya sejak SD.

Yang pernah pinjemin uang waktu Juki nggak bisa bayar kontrakan bulan ketiga.

Yang jagain Emak waktu Juki demam tinggi dan nggak ada yang bisa ditelpon.

Yang hafal Juki nggak suka pedes tapi selalu lupa minta nggak pedes karena gengsi.

Tapi malam itu, Juki juga nggak bisa bohong:

ada bagian kecil dari dirinya yang pengen Sabeni gagal.

Supaya mereka sejajar lagi.

Dan bagian kecil itu yang paling dia benci dari dirinya sendiri.

------------------------------------------------------------------------

Nama di Grup yang Bikin Dada Sesak

Juki nggak sengaja buka grup WhatsApp alumni SMA-nya.

Biasanya dia mute.

Tapi malam itu jempolnya salah pencet, dan notifikasi itu terbuka.

Isinya foto. Rendi — yang dulu duduk di bangku paling belakang,

yang ranking-nya nggak pernah masuk sepuluh besar,

yang bolosnya paling sering di antara semua orang yang Juki kenal di sekolah itu — sekarang foto di depan meja kerjanya.

Meja yang rapi, background kantor yang bersih, dan tulisan di caption:

"Alhamdulillah, resmi gabung tim [nama perusahaan besar]. Terima kasih buat semua yang sudah support!"

Tiga ratus dua belas likes.

Kolom komentar penuh ucapan selamat.

Juki menatap foto itu lama.

Rendi.

Yang waktu ujian nasional foto contekan di lengan bajunya sampai ketahuan tapi nggak jadi masalah karena guru pengawasnya kenal bapaknya.

Rendi yang nggak datang waktu kelompok mereka presentasi

tapi namanya tetap masuk nilai.

Rendi yang lulusnya telat setahun karena sering absen.

Rendi itu sekarang punya meja di perusahaan yang Juki bahkan nggak lolos seleksi administrasinya.

Juki scroll ke bawah lagi.

Ada yang komen: "Wah, kebetulan lo punya Om di sana ya, Ren?"

Rendi balas dengan emoji senyum doang.

Nggak jawab.

Nggak perlu jawab.

Juki tutup HP-nya.

Dia bukan nggak tahu. Dia tahu.

Sudah lama tahu bahwa dunia kerja bukan sepenuhnya soal siapa yang paling kerja keras atau paling pintar.

Tapi ada bedanya antara tahu dan merasakan — dan malam itu,

dengan langit-langit kamar yang catnya mengelupas dan kopi yang sudah dingin di meja,

dia merasakannya dengan cara yang nggak bisa dia jelaskan ke siapapun.

Dia teringat setahun lalu.

Waktu dia lamar kerja di salah satu perusahaan percetakan besar di Jakarta.

Berkasnya lengkap.

Portofolionya dia susun dua minggu.

Surat lamarannya dia tulis ulang tujuh kali sampai terasa pas.

Nggak lolos seleksi administrasi.

Dua minggu kemudian,

dia lihat ada orang baru di posisi yang sama — anaknya teman kantornya salah satu direksi.

Dia tahu ini dari cerita Dani,

teman lamanya yang kerja di sana.

"Formasinya emang sudah disiapkan, Juk. Lo nggak ada kesempatan dari awal."

Waktu itu Juki cuma manggut.

Pulang. Bikin kopi. Tidur.

Tapi malam ini,

setelah foto Rendi dan kolom komentar itu,

ada sesuatu yang naik dari dada ke tenggorokan dan nggak mau turun.

Dia kerja keras.

Dia jujur.

Dia nggak pernah minta tolong orang yang salah.

Tapi pintu yang harusnya terbuka untuk siapapun yang layak — ternyata sudah ada yang pegang kuncinya lebih dulu.

Dan kuncinya bukan nilai rapor, bukan portofolio, bukan jam kerja.

Kuncinya nama.

Kuncinya siapa yang kamu kenal.

Kuncinya meja makan siapa yang pernah kamu duduki.

Jalan yang lurus itu, pikir Juki,

kadang berakhir di depan tembok yang orang lain bisa tembus karena punya pintu khusus.

Dia nggak marah ke Rendi.

Rendi cuma pakai apa yang dia punya — dan siapapun,

kalau punya akses yang sama, mungkin melakukan hal yang sama.

Yang bikin Juki sesak bukan Rendi-nya.

Tapi pertanyaan yang muncul setelah itu:

Kalau sistemnya kayak gini,

gue harus main dengan cara yang gimana?

------------------------------------------------------------------------

Koh Acong dan Duit Goceng

Pagi-pagi, Emak minta dianterin ke pasar.

Juki nurut — karena nggak ada alasan lain buat keluar,

dan kamar terasa terlalu sempit buat pikiran yang sesak.

Pasar Tanah Abang pagi hari itu hiruk pikuk seperti biasa.

Suara tawar-menawar,

bau ikan segar, dan troli belanja yang rodanya selalu berbunyi nggak rata.

Di lapak sayur pojok,

Koh Acong sudah melayani pembeli sejak subuh — rambutnya basah keringat, tangannya cepat,

tapi mulutnya tetap bisa senyum ke tiap orang yang datang.

Lapaknya kecil.

Tapi antreannya selalu panjang.

"Emak! Anak bujang lu mane?"

teriak Koh Acong waktu melihat mereka datang.

"Ini, Koh. Juki."

"Wah, gede sekarang. Kerja apa?"

Juki agak kikuk.

"Lagi nyari-nyari, Koh."

Koh Acong manggut-manggut sambil tangan kanannya tetap ngupasin bawang.

"Nyari apa? Kerja, apa arah?"

Juki bingung.

"Dua-duanya, Koh."

Koh Acong berhenti sebentar.

Menatap Juki dengan cara yang nggak banyak orang lakukan — beneran menatap,

bukan sekedar lihat.

"Gue kasih tau satu hal, Ki. Toko gue ini kecil.

Dari untung goceng, ceban, gue kumpulin.

Kagak pernah pinjem sana-sini buat keliatan gedean dari yang gue punya.

Tapi dari sini, anak gue tiga pada kuliah semua."

Juki diam.

"Banyak yang dateng ke pasar ini, punya lapak yang lebih gede dari gue. Kelihatannya.

Tapi setahun dua tahun, tutup.

Kenapa? Karena mereka buka lapak buat keliatan, bukan buat jalan.

Modal pinjaman, stok dipamerin, tapi cashflow-nya bocor di mana-mana."

Emak mengangguk setuju.

"Iye, Koh Acong dari dulu dagangnya jujur."

"Bukan soal jujur doang."

Koh Acong kembali ngupasin bawangnya.

"Soal tahu diri sendiri. Gue tahu gue pedagang sayur.

Gue nggak coba jadi yang lain sebelum yang ini bener dulu.

Banyak orang gagal bukan karena kurang kerja keras

— tapi karena belum kenal diri sendiri, udah buru-buru keliatan udah sampai."

Juki hampir pergi.

Tapi ada yang nahan dia.

"Koh... lo nggak capek?

Maksudnya — lo nggak ngerasa nggak adil?

Orang yang modalnya gede, yang koneksinya luas,

yang bapaknya siapa — mereka lebih gampang dari lo."

Koh Acong berhenti ngupasin bawang.

Menatap Juki lagi.

"Capek? Ya capek.

Nggak adil? Ya nggak adil."

Dia naruh pisaunya.

"Tapi lo tahu apa yang lebih capek?

Ngabisin tenaga buat marah sama sistem yang emang nggak bakal berubah cuma karena lo marah.

Itu lebih nguras dari ngangkat karung bawang seharian."

Juki diam.

"Gue nggak bilang terimaain aja dan diem.

Gue bilang: kenal diri lo dulu. Tahu lo bisa apa, lo mau apa, lo paling kuat di mana.

Karena orang yang kenal dirinya sendiri itu susah digoyahin — mau sistemnya adil atau nggak."

"Tapi gimana kalau pintunya emang nggak dibuka buat orang kayak kita, Koh?"

Koh Acong senyum tipis.

Senyum yang kelihatannya sudah melewati banyak hal sebelum sampai ke bentuk itu.

"Kalau pintunya nggak dibuka — lo bikin jendela sendiri, Ki."

Juki pulang dari pasar dengan belanjaan Emak dan dua kalimat yang terus muter di kepalanya:

Belum kenal diri sendiri, udah buru-buru keliatan udah sampai.

Dan: Kalau pintunya nggak dibuka — bikin jendela sendiri.

------------------------------------------------------------------------

Yang Nggak Keliatan di Instagram

Seminggu kemudian,

Juki ada keperluan di daerah yang sama dengan kedai kopi Sabeni.

Dia mampir.

Bukan karena kangen — tapi karena ada bagian dirinya yang ingin lihat langsung,

bukan lewat layar.

Kedainya sepi di jam dua siang.

Dua pelanggan, satu lagi pakai laptop tapi kayaknya lebih banyak ngelamun dari pada kerja.

Barista yang jaga bukan Sabeni — orang lain, mukanya bosan.

Sabeni ada di pojokan.

Video call.

Dari jarak Juki berdiri, kelihatan punggungnya sedikit membungkuk,

tangannya sesekali ngusap muka,

dan satu kali — satu kali yang Juki yakin nggak sengaja keliatan — Sabeni menutup mata sebentar dengan ekspresi yang nggak ada di foto Instagram-nya.

Ekspresi orang yang capek.

Juki pesan kopi. Duduk. Nunggu.

Sabeni selesai video call, noleh, dan kelihatan kaget.

"Juk! Lo ngapain di sini?"

"Mampir. Boleh?"

"Ya boleh, ini kedai gue."

Sabeni duduk di seberangnya.

"Udah lama mau mampir?"

"Jujur? Iya."

Mereka ngobrol.

Lama.

Tentang hal-hal yang nggak pernah masuk Instagram — piutang yang belum balik,

supplier yang tiba-tiba naikin harga, dan pegawai pertama yang keluar setelah tiga minggu tanpa penjelasan yang jelas.

"Susah, Juk," kata Sabeni akhirnya,

dengan nada yang Juki jarang dengar dari mulutnya.

"Gue kira punya usaha sendiri itu bebas. Ternyata bebannya juga sendiri."

Juki nggak langsung jawab.

Dia pegang gelasnya.

"Lo pernah ngerasa nggak, Ben — lo buka ini buat apa sebetulnya?"

Sabeni diam.

"Buat gue sendiri, apa buat keliatan?"

Sabeni menatap meja. Lama.

"Gue nggak tahu, Juk. Dan itu yang paling nakutin."

------------------------------------------------------------------------

Tamu yang Nggak Diundang

Sore itu, Sabeni mampir ke rumah Juki.

Nggak ngabarin duluan — tiba-tiba Honda Brionya masuk gang,

parkir miring karena gangnya sempit, dan Sabeni turun dengan muka yang sumringah tapi matanya lelah.

Keduanya nggak bisa disembunyiin.

Emak langsung ke dapur bikin teh.

Bapak keluar sebentar, sapa Sabeni,

lalu masuk lagi dengan alasan yang kedengarannya dibuat-buat.

Mereka duduk di teras.

Ngobrol hal-hal ringan dulu — cuaca, tetangga yang anaknya baru sunat,

harga sembako yang naik lagi.

Lalu tiba-tiba dari ujung gang,

motor bebek berhenti.

Seorang pria turun dengan map di tangan dan kemeja yang terlalu rapi untuk jam segini di gang ini.

Dia jalan lurus ke arah teras.

"Maaf, dengan Pak Sabeni?"

Sabeni kaku. "Iya."

"Pak, cicilan unit Honda Brio dan modal usaha kedai kopi sudah lewat dua bulan.

Kami sudah beberapa kali kirim notifikasi. Ini prosedur terakhir sebelum penarikan unit."

Sunyi.

Bukan sunyi yang dramatis — sunyi yang canggung,

yang bikin semua orang di teras nggak tahu harus noleh ke mana.

Juki menatap Brio yang diparkir miring di mulut gang.

Mobil yang selama ini dia iri-irin.

Mobil yang di fotonya keliatan keren banget waktu Sabeni posting di depan kedainya pas grand opening.

Mobil yang ternyata belum lunas dua bulan.

"Mas, besok saya transfer ya. Ini lagi di rumah orang tua," kata Sabeni pelan.

"Pak, ini sudah janji ketiga dari bulan lalu. Kalau besok belum ada konfirmasi,

unit harus kami tarik."

Pria itu ngangguk sopan ke Juki dan Emak yang sudah muncul dari dapur, lalu pergi.

------------------------------------------------------------------------

Pengakuan di Teras

Lama mereka berdua nggak ngomong.

Emak masuk ke dalam — entah karena mau ngasih ruang, atau memang ada kerjaan lain, tapi Juki tahu Emak bisa baca situasi.

Sabeni yang mulai. Suaranya rendah.

"Sorry lo jadi liat ini, Juk."

"Kagak usah minta maaf."

"Lo pasti kaget."

"Kaget sih." Juki pause.

"Tapi lebih ke... gue nggak nyangka sebegininya."

Sabeni hembus napas panjang.

"Gue terlalu cepat, Juk. Modal dari proyek itu gede, tapi gue langsung hambur.

Sewa ruko yang harganya tinggi karena lokasinya 'strategis'.

Beli equipment yang kelihatannya bagus buat difoto.

Rekrut orang sebelum cashflow-nya stabil."

"Kenapa nggak cerita?"

"Karena udah terlanjur keliatan sukses."

Kalimat itu pelan.

Tapi kena tepat.

Karena udah terlanjur keliatan sukses.

"Juk," lanjut Sabeni,

"gue iri sama lo."

Juki menoleh.

"Serius. Lo bisa tidur nyenyak.

Lo nggak dikejar-kejar.

Lo bikin sesuatu dengan cara lo sendiri — gambar, tulisan, hal-hal kecil — dan lo nggak butuh orang lain kagum dulu buat ngerasa itu worth it."

Sabeni mengusap mukanya.

"Gue capek, Juk. Gue buka kedai karena pengen keliatan bisa.

Bukan karena gue beneran mau jadi pengusaha kopi."

Juki menatap temannya itu.

Tiga puluh tahun lebih dia kenal Sabeni.

Tapi baru malam ini dia dengar Sabeni bicara jujur tentang dirinya sendiri.

"Ben," kata Juki pelan,

"lo tahu nggak diri lo sendiri sebetulnya maunya apa?"

Sabeni nggak langsung jawab.

"Itu masalah gue, Juk. Gue nggak tahu.

Dan karena gue nggak tahu, gue ikut aja apa yang keliatan berhasil buat orang lain."

Juki diam sebentar. Lalu:

"Gue juga pernah di titik itu, Ben.

Waktu lo lagi buka kedai, gue lagi scroll alumni SMA.

Liat Rendi — lo inget Rendi yang sering bolos itu?

sekarang kerja di perusahaan gede. Masuk lewat omnya."

Sabeni manggut pelan.

"Gue tau. Gue juga dapet info yang sama dari orang dalam."

"Dan lo nggak marah?"

"Marah, Juk. Tapi capek juga marahnya."

Sabeni menatap jalan gang yang mulai gelap.

"Yang bikin gue lebih capek justru: gue ikut-ikutan cara main mereka.

Gue pikir kalau gue keliatan sukses, koneksi dateng sendiri. Ternyata nggak.

Koneksi dateng kalau lo punya sesuatu yang genuine, bukan sesuatu yang dipoles."

Mereka diam sama-sama.

Di ujung gang, suara anak-anak masih main.

Motor lewat sesekali. Lampu teras Emak nyala kuning.

"Juk, lo nggak takut? Jalan lo pelan banget.

Orang-orang udah pada melaju."

Juki pikir sebentar.

"Takut iya. Tapi lebih takut lagi kalau gue cepet tapi nggak tahu ke mana.

Kayak lari kenceng di tempat yang gelap — capek, tapi nggak sampai."

------------------------------------------------------------------------

Twist yang Nggak Ada yang Nyangka

Seminggu setelah malam itu, Juki dapat telepon.

Nomornya nggak dia kenal.

Dia angkat dengan setengah ragu.

"Halo, dengan Juki? Saya Pak Herman, dari percetakan Karya Mandiri."

"Iya, betul."

"Kami dapat nomor Bapak dari Koh Acong di Pasar Tanah Abang.

Katanya Bapak bisa desain dan nulis.

Kami lagi cari orang untuk bantu bikin materi promosi — flyer, konten media sosial, sama buletin bulanan buat komunitas pedagang pasar."

Juki terdiam sebentar.

"Maaf, Pak — Koh Acong yang kasih nomor saya?"

"Betul.

Dia bilang ada anak muda yang sering bantu desain undangan dan brosur murah di sekitar pasar.

Katanya hasilnya bagus dan nggak pernah minta bayaran lebih dari yang disepakati."

Juki diam sejenak.

Dia ingat.

Setahun lalu, waktu tetangga minta tolong buatin brosur laundry kiloan.

Waktu Bang Udin minta dibuatin undangan sunatan anaknya.

Waktu warung nasi uduk sebelah minta dibuatin papan harga yang kelihatan rapih. Semuanya Juki kerjain — bukan karena ingin dikenal,

tapi karena diminta dan dia bisa.

Dia nggak pernah pikir itu bisa jadi jalan.

"Pak Juki masih ada?"

"Ada, Pak. Masih ada."

"Bisa kita ketemu minggu depan?

Kalau cocok, ini bisa jadi kerjaan tetap.

Komunitas pedagang di sini cukup besar, dan kebutuhan promosi mereka banyak."

Juki tutup telepon.

Duduk di kursi. Diam.

Semua yang selama ini dia lakukan bukan untuk dilihat — ternyata dilihat juga.

Bukan oleh orang yang dia harapkan melihatnya.

Tapi oleh orang yang tepat, di waktu yang tepat, lewat jalur yang nggak pernah dia rencanakan.

Koh Acong. Lapak kecil di pojok pasar.

Yang dari untung goceng dua goceng bisa nyekolahin tiga anak.

Yang diam-diam memperhatikan.

Juki mikirin Rendi.

Mikirin nama-nama di grup alumni yang masuk kerja lewat orang dalam.

Mikirin pintu-pintu yang memang sudah ada yang pegang kuncinya duluan.

Tapi dia juga mikirin ini: Pak Herman dapat nomornya bukan dari orang dalam.

Dapat dari lapak sayur di pojok pasar

yang pemiliknya perhatiin cara dia kerja selama setahun tanpa Juki sadari.

Koneksi yang beneran,

pikir Juki,

bukan yang dibangun dari keliatan.

Tapi dari kerja yang bisa dipercaya.

Itu bukan jalan yang cepat.

Dan itu bukan jalan yang adil — karena Rendi tetap sudah lebih dulu di mejanya,

dan sistem itu nggak akan berubah cuma karena Juki keberatan.

Tapi itu jalan yang Juki bisa berdiri di atasnya dengan kedua kakinya sendiri.

------------------------------------------------------------------------

**

Masing-Masing Jalannya**

Bapak ada di teras waktu Juki keluar.

"Pak, ada yang mau Juki ceritain."

Mereka duduk berdua.

Teh Emak sudah dingin di atas meja.

Juki cerita dari awal — soal Sabeni,

soal irinya,

soal malam yang nggak bisa tidur,

soal foto Rendi di grup alumni,

soal tamu leasing di teras,

soal telepon dari Pak Herman.

Bapak dengerin semua. Nggak motong sekali pun.

Setelah Juki selesai,

Bapak diam sebentar. Lalu:

"Inget nggak, Bapak pernah bilang — jangan hidup buat keliatan?"

"Inget, Pak."

"Sabeni hidup buat keliatan. Makanya capek."

"Iya."

"Rendi masuk kerja lewat orang dalam. Lo nggak."

"Iya, Pak."

"Dan lo marah?"

Juki mikir jujur.

"Marah. Tapi lebih ke... nggak habis pikir.

Gue kerja keras, portofolio gue beres, tapi nggak lolos administrasi.

Dia bolos mulu waktu sekolah, tapi masuk duluan."

Bapak manggut. Lama.

"Ki, sistem itu emang nggak adil. Bapak nggak mau bohong ke lo soal itu."

Juki nggak nyangka Bapak bilang itu.

"Tapi lo tahu bedanya lo sama Rendi?"

"Apa, Pak?"

"Rendi masuk lewat pintu orang lain.

Dia duduk di meja itu, tapi meja itu bukan dia yang bikin.

Kalau suatu hari orang dalamnya nggak ada — mejanya bisa hilang juga.

" Bapak isap rokoknya pelan.

"Lo? Lo lagi bikin meja lo sendiri. Pelan. Tapi itu meja lo."

Juki menatap gang yang mulai sepi menjelang malam.

Lalu untuk pertama kalinya,

dia tidak ingin menukar hidupnya dengan hidup siapa pun.

“Sabeni temen gue.

Bukan nasib gue”

Juki menjawab pelan,

jemarinya menutup Sebagian bibirnya.

Bapak tersenyum.

Senyum yang jarang keluar — bukan yang untuk foto atau untuk tamu, tapi yang muncul sendiri karena memang senang.

"Nah. Sekarang lo ngerti kalimat Bapak dari dulu."

------------------------------------------------------------------------

Tahukah kamu?

Banyak orang mengira sumber penderitaan Juki adalah Sabeni.

Padahal bukan.

Sabeni hanya kebetulan menjadi cermin.

Cermin yang memperlihatkan sesuatu yang selama ini belum selesai di dalam diri Juki.

Karena kenyataannya, selalu akan ada Sabeni dalam hidup kita.

Teman yang menikah lebih dulu.

Teman yang kariernya melesat lebih cepat.

Teman yang bisnisnya terlihat lebih besar.

Teman yang mendapat kesempatan yang bahkan tidak pernah sampai ke meja kita.

Dan semakin sering kita melihat keluar, semakin mudah kita lupa melihat ke dalam.

Padahal masalahnya sering kali bukan karena orang lain lebih hebat.

Masalahnya adalah kita belum benar-benar mengenal siapa diri kita sendiri.

Kita tahu nilai rapor kita.

Kita tahu pekerjaan kita.

Kita tahu berapa gaji kita.

Tapi belum tentu tahu bagaimana cara terbaik diri kita berpikir, mengambil keputusan, belajar, bekerja, atau menghadapi tekanan.

Akibatnya, kita mudah tergoda memakai ukuran keberhasilan milik orang lain.

Kita memaksa diri berlari di jalur yang sebenarnya bukan jalur kita.

Lalu kelelahan.

Lalu kecewa.

Lalu bertanya kenapa hidup terasa berat.

Juki mulai berubah bukan ketika dunia menjadi lebih adil.

Bukan ketika koneksi orang dalam hilang.

Bukan ketika Sabeni gagal.

Perubahan itu terjadi ketika ia menyadari satu hal sederhana:

Sabeni adalah temannya. Bukan nasibnya.

Dan untuk memahami nasibnya sendiri, Juki harus terlebih dahulu memahami dirinya sendiri.

Karena seseorang yang mengenal dirinya akan lebih sulit digoyahkan oleh pencapaian orang lain.

Ia tahu apa kekuatannya.

Ia tahu batasnya.

Ia tahu cara terbaik untuk bertumbuh.

Dan yang terpenting, ia tidak lagi sibuk menjadi orang lain.

Pertanyaannya sekarang:

Jika kamu berhenti membandingkan hidupmu dengan siapa pun selama satu hari saja, apakah kamu benar-benar tahu siapa dirimu?

Kamu telah menyelesaikan cerita ini.