**
Yang Terlihat di Grid
Instagram Zahra adalah karya seni yang dikurasi dengan serius.
Foto kopi susu di kafe yang lighting-nya sempurna — diambil dari tiga sudut sebelum dipilih satu. Outfit of the day di depan mural yang warnanya matching sama tas crossbody barunya. Check-in hotel bintang tiga di Bandung yang captionnya ditulis ulang empat kali supaya terdengar spontan. Skincare flatlay di atas marmer putih dengan filter yang membuat semuanya terlihat bersih dan mahal dan seolah hidup Zahra memang selalu seperti itu.
Dua belas ribu pengikut.
"Zahra tuh hidupnya enak banget ya," kata seseorang di kolom komentar.
"Glowing terus, bestie!"
"Kantornya di mana sih? Kayaknya gajinya gede."
Zahra membaca komentar-komentar itu sambil rebahan di kasur kos-nya yang ukuran 3x4, di bawah kipas angin yang bunyinya mulai berisik, di malam tanggal dua puluh tujuh ketika saldo tabungannya tinggal tiga ratus empat puluh ribu rupiah.
Tiga ratus empat puluh ribu.
Untuk bertahan tiga hari lagi sampai gajian.
Di layar HP-nya yang masih dalam masa cicilan bulan ke-delapan, notifikasi PayLater muncul. Tagihan bulan ini: delapan ratus lima puluh ribu. Jatuh tempo tiga hari lagi.
Zahra tutup notifikasinya. Buka Instagram lagi. Scroll.
------------------------------------------------------------------------
Dimulai dari yang Kecil-Kecil
Zahra tidak tiba-tiba memiliki dua belas tagihan sekaligus. Itu proses — seperti air yang mengisi bak mandi dengan keran yang dibuka seperempat saja.
Dimulai dari serum vitamin C yang katanya viral di TikTok. Empat ratus ribu. Beli sendiri terasa berat, tapi ada cicilan nol persen tiga bulan lewat kartu kredit. Ya udah, berarti cuma seratus tiga puluh ribu sebulan. Nggak kerasa.
Lalu moisturizer yang beauty influencer rekomendasikan dengan konten review tiga menit dua puluh detik penuh data dan sebelah tangannya mulus seperti baru lahir. Enam ratus ribu. PayLater, bayar nanti.
Lalu foundation yang shade-nya dewy finish dan tidak crease. Tujuh ratus ribu lebih. Tapi ini investasi. Kulit sehat itu penting buat perempuan karier.
Zahra meyakinkan dirinya sendiri dengan kalimat itu — kulit sehat penting buat perempuan karier — dan kalimat itu terasa masuk akal sampai ia tidak lagi ingat kapan terakhir kali beli skincare karena memang kulit bermasalah, bukan karena ada yang baru rilis.
Lemari kosnya punya tiga rak. Dua rak dan setengah diisi skincare, makeup, dan haircare. Setengah rak sisanya untuk baju.
Bajunya tidak sedikit. Tapi setiap Senin pagi ia masih berdiri di depan lemari itu dengan pikiran nggak ada yang cocok.
Karena yang cocok untuk outfit hari ini belum dibeli — dan sudah ada di wishlist sejak dua minggu lalu, tinggal menunggu gajian atau limit PayLater yang sudah keterima lagi.
------------------------------------------------------------------------
FOMO Itu Mahal
Namanya Kiara — teman satu angkatan, sekarang kerja di startup.
Kiara yang pertama kali posting foto di kafe baru daerah Kemang itu. "Finally tried this place! Matcha worth it banget, seriously."
Zahra lihat fotonya jam delapan pagi sambil makan indomie di kos. Seharian ia kepikiran. Sore harinya ia sudah di sana, memesan matcha latte yang harganya enam puluh ribu, difoto dari lima sudut berbeda, diedit dua puluh menit, lalu diposting dengan caption: "little treat for myself ☁️"
Biaya perjalanan ojek pulang pergi: empat puluh ribu.
Total pengeluaran untuk dua jam di kafe: seratus ribu lebih.
Yang Zahra bawa pulang: satu foto untuk Instagram dan rasa kenyang yang hilang dua jam kemudian.
Yang tidak ia posting: bahwa malam itu ia makan nasi putih dengan kecap karena uang makannya sudah habis.
Ini bukan kejadian sekali. Ini pola.
Dina posting staycation di hotel rooftop pool Surabaya — Zahra tiga minggu kemudian juga staycation, hotel yang sedikit lebih murah tapi view-nya tetap bisa di-crop supaya kelihatan premium. Bayar dengan cicilan kartu kredit, lunas empat bulan kemudian.
Mita posting tas branded second. Zahra scrolling marketplace sampai jam dua belas malam, hampir checkout tas yang harganya dua setengah juta lewat pinjol yang prosesnya lima menit.
Hampir.
Waktu itu jarinya berhenti sedetik sebelum pencet tombol konfirmasi. Bukan karena sadar — tapi karena koneksi internetnya drop dan aplikasinya error.
Malam itu ia tertidur sebelum sempat mencoba lagi. Dan pagi harinya, rasa ingin itu sudah sedikit berkurang.
Tapi hanya sedikit.
------------------------------------------------------------------------
Spreadsheet yang Selalu Ditutup
Zahra pernah bikin spreadsheet.
Namanya bahkan bagus: Financial Tracker - Zahra 2024.xlsx. Dibuat jam sebelas malam setelah nonton video di YouTube tentang "cara atur gaji UMR biar bisa nabung" — video yang ia tonton sambil rebahan dan merasa termotivasi selama tiga puluh menit.
Isi spreadsheetnya:
Gaji: Rp 6.200.000
Cicilan HP: Rp 850.000
Kartu kredit (minimum payment): Rp 400.000
PayLater A: Rp 350.000
PayLater B: Rp 200.000
Kos: Rp 1.200.000
Makan: Rp 900.000 (estimasi)
Transport: Rp 400.000 (estimasi)
Skincare rutin: Rp 300.000 (estimasi, sering lebih)
------------------------------------------------------------------------
Sisa: Rp 1.600.000
Zahra menatap angka itu.
Satu juta enam ratus ribu. Untuk satu bulan penuh. Untuk semua pengeluaran yang tidak masuk daftar di atas — kafe, makan siang di luar, bensin kalau pinjam motor teman, kondangan, gift untuk orang yang ulang tahun, dan tentu saja "little treat for myself" yang datang terlalu sering.
Ia tutup spreadsheetnya.
Buka lagi dua hari kemudian. Tambahkan satu kolom: Skincare Baru - Niacinamide Serum. Lalu tutup lagi.
Spreadsheet itu terakhir dibuka tiga minggu yang lalu. Sekarang ada delapan belas tab yang terbuka di browser-nya, termasuk satu tab toko online yang sudah masuk ke halaman checkout dan tinggal memasukkan metode pembayaran.
------------------------------------------------------------------------
Tiga Teman, Tiga Versi
Sabtu siang, Zahra makan siang dengan Rani dan Sella.
Rani bawa tas baru — warna nude, bahan kulit, strap rantai emas kecil. Zahra tahu tas itu. Sudah dua minggu ada di wishlist-nya. Harganya satu juta dua ratus.
"Lucu banget, Ran. Beli di mana?"
"Marketplace. Lagi promo kemarin."
"Berapa dapet?"
"Sembilan ratus. Lumayan kan?"
Zahra senyum. Tapi di kepalanya sudah menghitung: PayLater masih ada sisa limit, kalau bayar tiga kali cicilan berarti tiga ratus sebulan, masuk akal—
"Za, kamu kayaknya harus coba si toner baru yang Sella rekomendasiin," kata Rani. "Pori-pori gue kecil banget semenjak pakai itu."
"Yang mana?"
Sella langsung ambil HP, buka link. "Ini. Empat ratus lima puluh ribu, tapi worth it banget. Kulit gue berubah dalam dua minggu."
Zahra melihat fotonya. Memang bagus. Memang glowing.
"Nanti gue coba deh."
"Langsung aja beli sekarang, biasanya stock-nya cepet habis."
"Nanti aja," kata Zahra sambil senyum yang terlihat santai. "Lagi nabung."
Kalimat terakhir itu keluar dengan sangat mulus. Padahal kenyataannya: tabungannya sudah dipakai bulan lalu untuk bayar kartu kredit yang jatuh tempo bersamaan dengan biaya kos.
Setelah makan siang — yang dibayar Zahra pakai kartu kredit karena "nanti di-split aja lewat transfer" dan dua temannya belum transfer sampai tiga hari kemudian — Zahra duduk di ojek online pulang dan menghitung.
Makan siang: dua ratus dua puluh ribu. Ojek: tiga puluh lima ribu. Total hari ini: dua ratus lima puluh lima ribu.
Untuk makan siang dan dua jam ngobrol tentang skincare.
------------------------------------------------------------------------
Yang Nggak Pernah Diposting
Ada hal-hal yang tidak pernah masuk ke Instagram Zahra.
Foto layar HP yang menampilkan notifikasi "Pembayaran gagal — saldo tidak mencukupi" saat ia mencoba bayar makan siang dengan GoPay.
Tangkapan layar chat dengan Mama yang isinya Zahra minta transferan dua ratus ribu "buat keperluan mendadak" — padahal keperluan mendadaknya adalah tagihan listrik kos yang terlupa.
Momen jam satu pagi di depan kulkas kosong, makan roti tawar tanpa apa-apa, sambil scrolling video resep makanan mahal yang tidak akan pernah dimasak.
Wajahnya tanpa skincare, tanpa filter, duduk di tepi kasur dengan spreadsheet keuangan yang terbuka — angka merah, sisa limit PayLater yang hampir habis, dan cicilan yang masih berjalan empat belas bulan lagi.
Dan satu lagi yang paling tidak pernah diposting: perasaan lelah itu.
Bukan lelah kerja. Tapi lelah berpura-pura. Lelah menjaga grid tetap estetik sementara realitanya setiap akhir bulan ia mengaduk-aduk rekening mencari uang yang tidak ada. Lelah merasa harus tampil sempurna supaya tidak ada yang bertanya "kamu baik-baik aja kan?" dengan nada yang sesungguhnya tidak ingin dijawab jujur.
Karena kalau dijawab jujur, jawabannya adalah: tidak.
------------------------------------------------------------------------
Sore di Teras, Sebelum Gajian
Libur nasional, Zahra pulang ke rumah orang tua di Depok.
Bukan karena kangen — atau bukan hanya karena kangen. Tapi karena kalau di kos, biaya makannya sendiri. Di rumah ada nasi.
Ibunya lagi masak di dapur. Bapaknya tidur siang. Zahra duduk di teras belakang dengan teh manis yang dibuatkan Ibu — teh yang rasanya selalu sama sejak Zahra SMA, dengan gula yang takarannya sudah hafal tanpa harus diukur.
HP-nya tidak ia buka.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia duduk tanpa melakukan apa-apa. Tidak scroll. Tidak foto. Tidak edit. Hanya duduk dan menatap halaman belakang yang tanamannya lebat karena Ibu rajin menyiram.
Ibu keluar membawa pisang goreng.
Duduk di sebelahnya. Juga diam sebentar.
"Za, kamu oke?"
"Oke, Bu."
Ibu tidak langsung percaya — Zahra tahu itu. Tapi Ibu juga tidak langsung mendesak. Mereka makan pisang goreng diam-diam sambil mendengar suara burung yang entah jenis apa.
"Ibu perhatiin kamu belakangan ini..." kata Ibu akhirnya. "Kamu kelihatan capek."
"Kerja lagi banyak, Bu."
"Bukan capek kerja." Ibu menatap tanamannya. "Capek yang lain."
Zahra tidak menjawab.
"Ibu nggak tanya soal uang. Ibu nggak tanya soal kerja. Ibu cuma mau tanya satu hal."
"Apa?"
"Kalau nggak ada yang lihat — kamu mau hidup seperti apa?"
Pertanyaan itu pendek. Tapi Zahra diam lama sekali setelah itu.
Karena untuk menjawabnya, ia perlu tahu dulu jawabannya. Dan jawaban itu ternyata tidak mudah dicari — karena selama ini ia terlalu sibuk memikirkan bagaimana hidupnya terlihat, sampai lupa bertanya bagaimana hidupnya sebetulnya terasa.
------------------------------------------------------------------------
Spreadsheet yang Akhirnya Dibaca Sampai Habis
Malam itu, di kamar lamanya di Depok, Zahra membuka spreadsheet keuangan yang sudah lama tidak ia sentuh.
Kali ini tidak langsung ditutup.
Ia baca satu per satu. Bukan untuk diperbaiki malam itu — tapi untuk dilihat dengan jujur.
Cicilan HP: delapan bulan berjalan, empat bulan lagi.
Kartu kredit: minimum payment terus, artinya bunganya terus berjalan dan pokok utangnya hampir tidak berkurang.
PayLater A dan B: total outstanding hampir tiga juta.
Skincare di lemari: kalau dijumlah harganya hampir empat juta. Setengahnya belum pernah dipakai sampai habis sebelum kadaluarsa.
Tabungan: nol. Sudah dipakai bulan lalu.
Dana darurat: tidak ada.
Zahra menutup laptopnya. Berbaring menatap langit-langit kamar yang catnya mulai mengelupas di pojok — sudah dari dulu begitu, dari zaman ia SMA, tidak pernah diperbaiki karena tidak pernah terasa mengganggu sampai sekarang.
Dia pikir soal kalimat Ibu tadi. Kalau nggak ada yang lihat, kamu mau hidup seperti apa?
Jawabannya mulai muncul pelan-pelan.
Kalau nggak ada yang lihat — ia tidak perlu kopi enam puluh ribu. Ia suka kopi hitam yang diseduh sendiri, pahit, tanpa foto.
Kalau nggak ada yang lihat — ia tidak perlu staycation di hotel rooftop. Ia suka tidur siang di kasur sendiri dengan kipas angin dan suara hujan.
Kalau nggak ada yang lihat — ia mungkin tidak perlu serum niacinamide yang ketujuh. Kulitnya sebetulnya baik-baik saja.
Yang ia beli selama ini bukan kebahagiaan. Itu adalah bukti — bukti bahwa hidupnya layak dilihat, bahwa ia berhasil, bahwa ia tidak tertinggal. Bukti yang ia pajang untuk orang lain, tapi tidak pernah benar-benar ia rasakan sendiri.
Dan untuk mengumpulkan bukti itu, ia berutang kepada masa depannya sendiri.
------------------------------------------------------------------------
Mulai dari Satu Hal
Zahra tidak melakukan perubahan besar malam itu.
Tidak uninstall semua aplikasi belanja. Tidak buat resolusi dua belas poin tentang financial freedom. Tidak langsung lunas semua utang — karena memang tidak bisa malam itu.
Yang ia lakukan hanya satu: ia tulis di selembar kertas, dengan pulpen Ibu yang tintanya hampir habis, satu kalimat.
Aku beli ini untuk siapa?
Kalimat itu ia foto — bukan untuk diposting, tapi untuk dijadikan wallpaper HP.
Supaya setiap kali ia mau buka aplikasi belanja, atau mau pencet tombol checkout, atau mau swipe PayLater — ia melihat pertanyaan itu dulu.
Aku beli ini untuk siapa?
Bukan larangan. Bukan hukuman. Hanya pertanyaan yang jujur.
Dan beberapa hari kemudian, saat Rani posting foto tas baru yang lain dan Zahra merasakan dorongan yang sudah sangat familiar itu, ia buka HP, melihat wallpaper-nya, dan duduk dengan pertanyaan itu selama tiga menit.
Lalu ia tutup aplikasinya. Bukan karena tidak mampu — bukan soal itu. Tapi karena untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri lebih dulu sebelum bertanya pada rekening dan limit kartu.
Itu saja. Belum banyak. Tapi itu awal.
------------------------------------------------------------------------
Grid yang Berbeda
Tiga bulan kemudian, Instagram Zahra masih aktif.
Tapi ada yang berbeda.
Ia posting foto teh manis di teras rumah orang tua — cangkir biasa, background tanaman Ibu yang lebat, cahaya sore yang tidak diedit. Caption-nya singkat: "minggu yang tenang."
Empat ratus dua puluh likes. Lebih sedikit dari biasanya.
Tapi ada dua belas komentar yang terasa berbeda dari komentar-komentar sebelumnya. "Ini aesthetic yang beda tapi lebih... real." "Kok ini yang paling bikin gue tenang scrolling-nya." "Za, kamu oke? Tapi oke yang beneran."
Yang terakhir itu dari Sella. Dan Zahra membalasnya dengan sesuatu yang belum pernah ia tulis sebelumnya di kolom komentar:
"Lagi belajar, Sel. Pelan-pelan."
Tabungannya masih kecil. Cicilan masih jalan. PayLater belum lunas.
Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia bisa tidur di tanggal tua tanpa memeriksa saldo dengan perasaan takut.
Bukan karena masalahnya selesai.
Tapi karena ia mulai tahu mana yang masalah — dan mana yang selama ini hanya terasa seperti masalah karena ia membandingkan hidupnya dengan grid orang lain.
------------------------------------------------------------------------
Tahukah kamu?
Zahra bukan perempuan yang lemah atau tidak cerdas. Ia adalah gambaran dari jutaan perempuan urban Indonesia yang tumbuh di tengah tekanan yang sangat spesifik: tampil cantik, tampil sukses, tampil berhasil — semuanya sekaligus, semuanya terlihat mudah, semuanya harus masuk ke dalam kotak 1:1 yang estetik.
Ada data yang jarang dibicarakan tapi perlu diletakkan di sini:
Pengguna pinjaman online dan PayLater di Indonesia didominasi oleh perempuan usia produktif 25-35 tahun. Kategori pengeluaran terbesar yang dibiayai: fashion, kecantikan, dan gaya hidup. Bukan kebutuhan darurat — tapi kebutuhan sosial yang terasa sama mendesaknya.
Tekanan itu nyata. Standar kecantikan yang terus bergerak — setiap tahun ada bahan aktif baru yang harus dicoba, setiap musim ada produk yang kalau tidak punya berarti ketinggalan. Tekanan tampil di media sosial yang membuat hidup harus selalu terlihat curated, aesthetic, dan intentional. Tekanan perbandingan sosial yang hadir dua puluh empat jam sehari di genggaman.
Yang Zahra alami bukan soal kurang disiplin. Ini soal belum cukup kenal dirinya sendiri untuk tahu: apa yang benar-benar membuatnya merasa baik — bukan apa yang membuatnya terlihat baik di mata orang lain.
Dalam konsep STIFIn, setiap orang punya cara bawaan untuk memproses kebutuhan dan kepuasannya. Ada yang paling kenyang secara emosional saat terhubung dengan orang-orang yang dicintainya — bukan saat memiliki barang terbaru. Ada yang paling puas saat menciptakan sesuatu dengan tangannya sendiri — bukan saat membeli sesuatu yang sudah jadi. Ada yang paling tenang saat hidupnya terstruktur dan terprediksi — bukan saat selalu mengejar hal baru.
Masalah muncul ketika seseorang mengisi kekosongan yang sebetulnya butuh koneksi, kreasi, atau ketenangan — dengan pembelian. Karena pembelian memberikan kepuasan yang nyata tapi singkat. Dan karena singkat, harus diulang. Dan karena diulang, tagihan menumpuk. Dan karena tagihan menumpuk, kecemasan datang. Dan untuk meredakan kecemasan itu — seseorang sering kali kembali membeli.
Ini lingkaran yang tidak bisa diputus dengan aplikasi budgeting saja. Ini butuh satu pertanyaan yang lebih mendasar:
Aku beli ini untuk siapa?
Dan di balik pertanyaan itu, ada pertanyaan yang lebih dalam lagi — pertanyaan yang Ibu Zahra tanyakan di teras sore hari itu:
Kalau nggak ada yang lihat, kamu mau hidup seperti apa?
Jawaban dari pertanyaan itu bukan tentang hemat atau boros. Bukan tentang boleh atau tidak boleh. Itu tentang mengenal diri sendiri cukup dalam untuk tahu: kebahagiaan yang mana yang benar-benar milikku, dan kebahagiaan mana yang aku beli karena takut tidak dilihat.
Karena kebahagiaan yang sesungguhnya tidak bisa dicicil.
Tapi juga tidak perlu ditunda sampai semua utang lunas.
Ia bisa dimulai dari selembar kertas, pulpen yang hampir habis, dan satu kalimat jujur yang dijadikan wallpaper.
